- Jean Francois Lyotard: Narasi Besar dan Masyarakat Komputerisasi
Jean
Francois Lyotard lahir di Versailes, prancis pada tahun 1924. Karir akademiknya
diawali sebagai guru sekolah menengah di Constantine, Algeria pada tahun 1950.
Tahun 1959 ia menerima tawaran untuk mengajar di University of Paris ,
Sorbonne. Selain mengajar di Sorbonne , Lyotard juga aktif sebagai anggota
kelompok kiri militant Perancis, Socialisme ou barbarie yang sangat terkenal
pada saat itu. Tahun 1966 Lyotard meninggalakan Sorbonne untuk mengajar di
Universitas of Nanterre.
Jean
Francois Lyotard adalah pemikir filsafat dan social Perancis yang mulai
meletakkan dasar argumentasi filosofis dalam diskursus postmodernisme. Melalui
bukunya yang telah menjadi klasik, The condition of postmodern : A Report on
knowledge (1984). Lyotard mencatat beberapa cirri utama kebudayaaan postmodern.
Menurutnya, kebudayaan postmodern di tandai oleh beberapa prinsip yakni;
lahirnya masyarakat komputerisasi, runtuhnya narasi-narasi besar modernism,
lahirnya prinsip delegitimasi, disensus, serta paralogi.
Menggarisbawahi
sifat transformative masyarakat komputerisasi yang lebih terbuka, majemuk,
plural dan demokratis, Lyotard selanjutnya menyatakan bahwa kebenaran yang di
bawa oleh narasi-narasi besar ( Grand Narratives) modernisme sebagai metanarasi
kini telah kehilangan legitimasinya. Hal ini karena dalam masyarakat
kontemporer, sumber pengetahuan dan kebenaran pengetahuan tidak lagi tunggal.
Realitas kontemporer tidak lagi homolog ( Homo: satu dan logi : tertib, nalar )
melainkan paralog ( para : Beragam, dan logi : tertib nalar ) (awuy, 1995).
Pengetahuan dan kebenaran kini menyebar dan plural. Konsekuensinya, prinsip
legitimasi modernisme harus di bongkar dengan prinsip delegitimasi. Dengan
legitimasi , berarti diakui adanya berbagai unsure realitas yang memiliki
logikanya sendiri. Dengan legitimasi , menurut lyotard, prinsip lain yakni
disensus menjadi lebih bisa diterima ketimbang prinsip consensus seperti
ditawarkan Juergen Habermas.
- Mihel Foucault : Kuasa –Pengetahuan Era Postmodern
Michel
Foucault adalah filsuf, sjarawan dan sosiolog kontemporer prancis. Ia
dilahirkan di Poitiers, Prancis pada tanggal 15 oktober 1926 dengan nama Paul-
Michel Foucault dari sebuah keluarga kaya. Ayahnya Paul Foucault adalah seorang
dokter bedah terkenal di prancis pada saat itu. Pendidikan dasarnya di
selesaikam di sekolah katolik, Jesuit College Saint-stanislas dan dilanjutkan
ecole Normale sperieure (rue d’ulm) sekolah prestius yang di anggap
sebagai pintu masuk karir akademik terbaik di bidang humaniora di Prancis.
Foucault
sangat dikenal karena karya-karya kritisnya mengenai institusi social
peripheral (pinggiran), penjara, rumah sakit jiwa, kegilaan, ilmu-ilmu
kemanusiaan, dan sejarah seksualitas. Pemikiran Foucault tentang kekuasaan,
hubungan kuasa, pengetahuan dan diskursus serta arkeologi pengetahuan banyak di
perbincangkan dalam kajian post-strukturalisme.
Dalam
bukunya the order of things;an archaeology of Human sciences (1966),Foucault
membahas konsepsi sejarah dan memperkenalkan istilah genealogi sejarah, sebuah
istilah yang di pengaruhi oleh gagasan genealogi Nietzsche. Menurut Foucault,
genealogi sejarah adalah konsepsi sejarah yang secara sadar mendelegitimasi
masa kini dan memisahkannya dari masa lalu. Tujuannya adalah untuk menghapuskan
delegitimasi masa kini sehingga dapat menemukan perbedaan khas masa lalu dan
masa kini. Ketika teknologi kekuasaan masa lalu di uraikam secara rinci , maka
asumsi- asumsi masa kini yang memandang masa lalu sebagai “ irasional” akan
runtuh.
Dalam
bukunya yang lain madness and insanity; History of madness in the classical age
(1961) Foucault meneliti sejarah kegilaan dan peradaban masyarakat barat.
Menurut Foucault kegilaan sebenarnya memiliki sumbangan tersendiri terhadap
peradaban barat. Berdasarkan pnelitian yang dilakukannya, menurut Foucault,
genealogi kegilaan sejak abad ke -17 M memperlihatkan telah terjadinya praktik
pemenjaraan moral yang dilakukan melalui mekanissme disiplin dan penghukuman
orang-orang gila. Penghukuman orang-orang gila, sejatinya bukan sekedar
pemenjaraan fisik semata , namun lebih dari itu adalah sebuah praktik
pemenjaraan moral.
Melalui
bukunya Discipline and punish: The birth of the prison (1975) menurut Foucault
telah terjadi monarkis ke kuasaan mode kekuaan mode pelaksanaan kekuasaan
disipliner. Dalam masyarakat feudal, kekuasaaan pengadilan tidak banyak menahan
pelaku kejahatan, namun hukuman di berikan secara spektakuler sehingga orang
lain takut untuk melakukan kejahatan yang sama. Inilah mode kekuasaan monarkis.
Sementara itu, muncul mode kekuasaan baru, yaitu kekuasaan disipliner dimana
ditanamkan system pengawasan yang diinternalisasikan hingga setiap orang
menjadi pengawas bagi dirinya sendiri (mirip Konsep Panopticon dari Jeremy Bentham)
Dengan
upaya besar dan cerdasnya ini, faucault telah memberikan dua sumbangan besar
terhadap postmodernisme. Pertama, keberhasilannya menyingkap mitos-mitos
modernism yang menampilkan dirinya sebagai kebenaran absolute, yang universal,
namun sebenarnya palsu. Kedua, pemihakannya terhadap persoalan-persoalan yang
selama ini di tindas oleh rasionalitas modern, tersisih, marjinal dan
dikucilkan agar lebih di dengar dan di perhatikan.
- Jacques Derrida : Dekontruksi Modernitas
Jacques
Derrida adalah seorang filsuf dan pemikir social berkebangsaan perancis yang
lahir pada tanggal 15 juli 1930, di El Biar, Algeria. Dididik dalam tradisi
pendidikan Perancis , tahun 1949 ia belajar di Ecole Normale superiure
(ENS) sebuah sekolah elit di paris kemudian mengajar filsafat di univer
itas Sorbonne (1960 hingga 1964)Ecole Normale superieru (1964 hingga 1984).
Sejak tahun 1960-an mulai mempublikasikan buku dan karya ilmiah di
jurnal-jurnal ternama. Ia juga banyak memberikan kuliah di universitas terkenal
di Amerika serikat , termasuk di Yale University of California. Derrida
meninggal pada tanggal 8 oktober 2004 di paris Perancis.
Derrida
terutama dikenal sebagai pendukung utama dekonstruksi, sebuah istilah yang
merujuk pada strategi kritis yang menggugat konsep pembedaan atau oposisi
biner, yang melekat dalam sejarah pemikiran barat. Melalui dekonstruksi,
derrida mencoba meletakkan kembali kedudukan struktur dalam keadaan aslinya,
yakni keadaan dimana relasi antara pusat pinggiran belum lagi mengeras. Denganya
diinginkan pluralitas dan heterogenitas kehidupan yang membeku dan tertindas
selama masa modernismekembali terhampar.dengan dekonstruksi,wacana-wacana yang
sebelumnya tertindas: kelompok etnis,kaum feminis,dunia ketiga,ras kulit hitam,
kelompok guys, hippies, punk, atau gerakan peduli lingkungan kini mulai
diperhatikan dengan konstruksi, sejarah modernisme hendak di tampilkan tanpa
kedok, apa adanya.
Pada
tahun 1960-an, karya derrida mulai diterima di Perancis dan di luar Perancis
sebagai gerakan interdisipliner yang dikenal dengan nama strukturalisme`.
Strukturalisme menganalisis berbagai fenomena kebudayaan seperti mitos, ritual
agama, cerita sastra, fashion dan lain-lain. Beberapa karya derrida juga
dianggap sebagai kritik terhadap pemikiran tokoh-tokoh strukturalisme seperti
Saussure, Calude Levi-Strauss, dan Michel Foucault sehingga beberapa kalangan
menyebutnya sebagai penyokong “poststrukturalisme”, lebih dari semua itu,
terutama karena keberhasilannya membongkar sifat paradox cerita-cerita besar
modernitas melalui dekonstruksi, derrida banyak di golongkan sebagai salah satu
pemikir utama teori postmodern.
- Jean Baudrilland : Dunia simulasi dan Hiperrealitas Postmodern
Jean
Baudrilland dilahirkan di kota Riems, Prancis barat pada 5 januari 1929.
Bersama saudara-saudaranya yang lain baudrilland hidup dalam tradisi keluarga
petani urban yang sederhana. Ia adalah seorang pertama dalam keluarganya yang
bekerja sebagai ilmuwan secara serius. Pada tahun 1966 Baudrilland
menyelesaikan tesis sosiologisnya di Universitas Nanterre di bawah bimbingan
Henry Lefebvre, seorang anti-strukturali perancis kondang saat itu. Setahun
setelah lulus , ia kemudian masuk universitas Nanterre, untuk mengajar di sana.
Setelah setahun mengajar, selanjutnya baudrilland bergabung dengan Roland
Barthes mengajar di Ecole Des Hautes Etudes.
Menurut
Baudrilland, perkembangan kapitalisme lanjut semenjak tahun 1920-an menunjukkan
perubahan dramatis karakter produksi dan konsumsi dalam masyarakat consumer.
Dalam era ini, segala upaya pada penciptaan dan peningkatan kapasitas konsumsi
melalui permassalan produk, differensiasi produk dan manajemen pemasaran. Dalam
masyarakat konsumer , objek-objek konsumsi yang berupa komoditi tidak lagi
sekedar memiliki manfaat (nilai guna ) dan harga (nilai tukar)seperti
dijelaskan Marx. Namun lebih dari itu ia kini menjadi symbol gaya hidup,
prestise, kemewahan, dan status social pemiliknya.
Dunia
simulacra, yang menjadi wacana dominan keasadaran masyarakat barat dewasa
ini, papar baudrilland, sebenarnya telah ada semenjak era renaisans. Realitas
simulacra memiliki tiga tingkatan periode historis, yaitu, Orde Pertama,
berlangsung semenjak era Renaisans- Feodal Hingga permulaan Revolusi industry.
Dalam orde ini realitas dunia dipahami berdasarkan prinsip hokum alam, dengan
cirri ketertiban, keselarasan, hierarki alamiah serta bersifat tresenden. Alam
menjadi pendukung utama sekaligus determinan kebudayaan. Simulacra Orde Kedua,
berlangsung bersamaan dengan semakin gemuruhnya era industrialisasi yang
merupakan konsekuensi logis Revolusi Industri.revolusi industri disatu sisi
telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan kebudayaan. Namun di sisi
lain revolusi industry juga menimbulkan akses-akses negative kebudayaan. Logika
produksi yang menjadi prinsip simulacra orde kedua. orde ketiga, lahir
sebagai konsekuensi logis perkembangan ilmu dan teknologi informasi, komunikasi
global, media massa, konsumerisme, dan kapitalisme pada era pasca perang dunia
II.
Sementara
melalui karyanya the ectasy of communication(1987) Baudrilland menyatakan bahwa
dengan transparasi makna dan informasi, masyarakat barat dewasa ini telah
melampaui ambang batas menuju keadaan permanent ectasy, ektasi social(massa)
ektasi tubuh (kegemukan) ektasi seks (kecabulan) ektasi kekerasan (terror) dan
ektasi informasi (simulasi).
- Fredrich Jameson : Kapitalisme lanjut dan Postmodernisme
Fredich
jameson adalah pemikir social Marxian berkebangsaan America serikat yang lahir
di Cleveland, Ohio, America Serikat. Setelah lulus dari Haverlord collage pada
tahun 1954, ia pergi ke Eropa dan belajar di aix-provence, Munich serta
berlin dimana ia mempelajari perkembangan terbaru dalam kajian filsafat,
terutama strukturalisme. Ia kembali ke America serikat untuk menyelesaikan
studinya doctoral di Yale University selama tahun 1960 hingga 1965.
Pergeseran
minat jameson menuju paham marxisme juga didorong oleh hubungan politik
pribadinya yang semakin meningkat dengan tokoh-tokoh gerakan kiri baru. Dalam
banyak hal , jameson bersama dengan pemikir kritik kebudayaan Marxian lainnya
yaitu Terry eagleton, berusaha menjelaskan peran penting pandangan Marxian
terhadap trend filsafat dan sastra kontemporer. Setelah pindah ke University of
California, san diego pada tahun 1967, Jameson menerbitkan buku berjudul
Marxism and Form Twentieth- century Dialectical Theories of literature (1971)
dan The Prison-House Of Language: A Critical Account Of structuralism And
Russian Formalism (1972).
Karya
penting fredich Jameson Mengenai pedidikan postmodernisme adalah bukunya yang
berjudul Postmodernisme or the Cultural Logic Of the late Capitalism. Dalam
buku ini jameson menyatakan bahwa kapitalisme saat ini telah menjadi cara
pandang dominan masyarakat kontemporer dewasa ini. Dengan buku ini jameson
bermaksud mengkritik postmodernisme dan menolak pendapat sebagian besar
pemikir postmodernisme, terutama Jean francois Lyotard dan jean Baudrilland.
Dalam
bukunya yang menjadi klasik tersebut, jameson juga memberikan ciri- ciri
masyarakat yang cenderung negative sebagai berikut;
1)
postmodernisme di tandai oleh kedangkalan dan kekurangan kedalaman
2)
Postmodernisme di tandai oleh kepura-puraan atau kelesuan emosi
3)
Postmodernisme di tandi oleh hilangya makna sejarah
4)
terdapat sejenis teknologi baru seperti televise dan computer yang melekat amat
erat dengan masyarakat postmodern.
Diantara pemikir-pemikir postmodern yang lain,
Fredich Jameson adalah salah satu pemikir yang secara terbuka bersikap negative
dan mengkritik pandangan teoritis pemikiran social postmodern yang berkembang
di awal abad ke-20 M
dikutip dari buku Teori sosial Postmodernisme , George ritzer
Tidak ada komentar:
Posting Komentar