Minggu, 02 Maret 2014

Tokoh Sosial Postmodernisme


  • Jean Francois Lyotard: Narasi Besar dan Masyarakat Komputerisasi

Jean Francois Lyotard lahir di Versailes, prancis pada tahun 1924. Karir akademiknya diawali sebagai guru sekolah menengah di Constantine, Algeria pada tahun 1950. Tahun 1959 ia menerima tawaran untuk mengajar di University of Paris , Sorbonne. Selain mengajar di Sorbonne , Lyotard juga aktif sebagai anggota kelompok kiri militant Perancis, Socialisme ou barbarie yang sangat terkenal pada saat itu. Tahun 1966 Lyotard meninggalakan Sorbonne untuk mengajar di Universitas of Nanterre.
Jean Francois Lyotard adalah pemikir filsafat dan social Perancis yang mulai meletakkan dasar argumentasi filosofis dalam diskursus postmodernisme. Melalui bukunya yang telah menjadi klasik, The condition of postmodern : A Report on knowledge (1984). Lyotard mencatat beberapa cirri utama kebudayaaan postmodern. Menurutnya, kebudayaan postmodern di tandai oleh beberapa prinsip yakni; lahirnya masyarakat komputerisasi, runtuhnya narasi-narasi besar modernism, lahirnya prinsip delegitimasi, disensus, serta paralogi.
Menggarisbawahi sifat transformative masyarakat komputerisasi yang lebih terbuka, majemuk, plural dan demokratis, Lyotard selanjutnya menyatakan bahwa kebenaran yang di bawa oleh narasi-narasi besar ( Grand Narratives) modernisme sebagai metanarasi kini telah kehilangan legitimasinya. Hal ini karena dalam masyarakat kontemporer, sumber pengetahuan dan kebenaran pengetahuan tidak lagi tunggal. Realitas kontemporer tidak lagi homolog ( Homo: satu dan logi : tertib, nalar ) melainkan paralog ( para : Beragam, dan logi : tertib nalar ) (awuy, 1995). Pengetahuan dan kebenaran kini menyebar dan plural. Konsekuensinya, prinsip legitimasi modernisme harus di bongkar dengan prinsip delegitimasi. Dengan legitimasi , berarti  diakui adanya berbagai unsure realitas yang memiliki logikanya sendiri. Dengan legitimasi , menurut lyotard, prinsip lain yakni disensus menjadi lebih bisa diterima ketimbang prinsip consensus seperti ditawarkan Juergen Habermas.
   
  •  Mihel Foucault : Kuasa –Pengetahuan Era Postmodern

Michel Foucault adalah filsuf, sjarawan dan sosiolog kontemporer prancis. Ia dilahirkan di Poitiers, Prancis pada tanggal 15 oktober 1926 dengan nama Paul- Michel Foucault dari sebuah keluarga kaya. Ayahnya Paul Foucault adalah seorang dokter bedah terkenal di prancis pada saat itu. Pendidikan dasarnya di selesaikam di sekolah katolik, Jesuit College Saint-stanislas dan dilanjutkan ecole Normale sperieure (rue d’ulm)  sekolah prestius yang di anggap sebagai pintu masuk karir akademik terbaik di bidang humaniora di Prancis.
Foucault sangat dikenal karena karya-karya kritisnya mengenai institusi social peripheral (pinggiran), penjara, rumah sakit jiwa, kegilaan, ilmu-ilmu kemanusiaan, dan sejarah seksualitas. Pemikiran Foucault tentang kekuasaan, hubungan kuasa, pengetahuan dan diskursus serta arkeologi pengetahuan banyak di perbincangkan dalam kajian post-strukturalisme.
Dalam bukunya the order of things;an archaeology of Human sciences (1966),Foucault membahas konsepsi sejarah dan memperkenalkan istilah genealogi sejarah, sebuah istilah yang di pengaruhi oleh gagasan genealogi Nietzsche. Menurut Foucault, genealogi sejarah adalah konsepsi sejarah yang secara sadar mendelegitimasi masa kini dan memisahkannya dari masa lalu. Tujuannya adalah untuk menghapuskan delegitimasi masa kini sehingga dapat menemukan perbedaan khas masa lalu dan masa kini. Ketika teknologi kekuasaan masa lalu di uraikam secara rinci , maka asumsi- asumsi masa kini yang memandang masa lalu sebagai “ irasional” akan runtuh.
Dalam bukunya yang lain madness and insanity; History of madness in the classical age (1961) Foucault meneliti sejarah kegilaan dan peradaban masyarakat barat. Menurut Foucault kegilaan sebenarnya memiliki sumbangan tersendiri terhadap peradaban barat. Berdasarkan pnelitian yang dilakukannya, menurut Foucault, genealogi kegilaan sejak abad ke -17 M memperlihatkan telah terjadinya praktik pemenjaraan moral yang dilakukan melalui mekanissme disiplin dan penghukuman orang-orang gila. Penghukuman orang-orang gila, sejatinya bukan sekedar pemenjaraan fisik semata , namun lebih dari itu adalah sebuah praktik pemenjaraan moral.
Melalui bukunya Discipline and punish: The birth of the prison (1975) menurut Foucault telah terjadi monarkis ke kuasaan mode kekuaan mode pelaksanaan kekuasaan disipliner. Dalam masyarakat feudal, kekuasaaan pengadilan tidak banyak menahan pelaku kejahatan, namun hukuman di berikan secara spektakuler sehingga orang lain takut untuk melakukan kejahatan yang sama. Inilah mode kekuasaan monarkis. Sementara itu, muncul mode kekuasaan baru, yaitu kekuasaan disipliner dimana ditanamkan system pengawasan yang diinternalisasikan hingga setiap orang menjadi pengawas bagi dirinya sendiri (mirip Konsep Panopticon dari Jeremy Bentham)
Dengan upaya besar dan cerdasnya ini, faucault telah memberikan dua sumbangan besar terhadap postmodernisme. Pertama, keberhasilannya menyingkap mitos-mitos modernism yang menampilkan dirinya sebagai kebenaran absolute, yang universal, namun sebenarnya palsu. Kedua, pemihakannya terhadap persoalan-persoalan yang selama ini di tindas oleh rasionalitas modern, tersisih, marjinal dan dikucilkan agar lebih di dengar dan di perhatikan.
   
  • Jacques Derrida : Dekontruksi Modernitas

Jacques Derrida adalah seorang filsuf dan pemikir social berkebangsaan perancis yang lahir pada tanggal 15 juli 1930, di El Biar, Algeria. Dididik dalam tradisi pendidikan Perancis , tahun 1949 ia belajar di Ecole Normale superiure  (ENS) sebuah sekolah elit di paris kemudian mengajar filsafat di univer itas Sorbonne (1960 hingga 1964)Ecole Normale superieru (1964 hingga 1984). Sejak tahun 1960-an mulai mempublikasikan buku dan karya ilmiah di jurnal-jurnal ternama. Ia juga banyak memberikan kuliah di universitas terkenal di Amerika serikat , termasuk di Yale University of California. Derrida meninggal pada tanggal 8 oktober 2004 di paris  Perancis.
Derrida terutama dikenal sebagai pendukung utama dekonstruksi, sebuah istilah yang merujuk pada strategi kritis yang menggugat konsep pembedaan atau oposisi biner, yang melekat dalam sejarah pemikiran barat. Melalui dekonstruksi, derrida mencoba meletakkan kembali kedudukan struktur dalam keadaan aslinya, yakni keadaan dimana relasi antara pusat pinggiran belum lagi mengeras. Denganya diinginkan pluralitas dan heterogenitas kehidupan yang membeku dan tertindas selama masa modernismekembali terhampar.dengan dekonstruksi,wacana-wacana yang sebelumnya tertindas: kelompok etnis,kaum feminis,dunia ketiga,ras kulit hitam, kelompok guys, hippies, punk, atau gerakan peduli lingkungan kini mulai diperhatikan dengan konstruksi, sejarah modernisme hendak di tampilkan tanpa kedok, apa adanya.
Pada tahun 1960-an, karya derrida mulai diterima di Perancis dan di luar Perancis sebagai gerakan interdisipliner yang dikenal dengan nama strukturalisme`. Strukturalisme menganalisis berbagai fenomena kebudayaan seperti mitos, ritual agama, cerita sastra, fashion dan lain-lain. Beberapa karya derrida juga dianggap sebagai kritik terhadap pemikiran tokoh-tokoh strukturalisme seperti Saussure, Calude Levi-Strauss, dan Michel Foucault sehingga beberapa kalangan menyebutnya sebagai penyokong “poststrukturalisme”, lebih dari semua itu, terutama karena keberhasilannya membongkar sifat paradox cerita-cerita besar modernitas melalui dekonstruksi, derrida banyak di golongkan sebagai salah satu pemikir utama teori postmodern.

  • Jean Baudrilland : Dunia simulasi dan Hiperrealitas Postmodern

Jean Baudrilland dilahirkan di kota Riems, Prancis barat pada 5 januari 1929. Bersama saudara-saudaranya yang lain baudrilland hidup dalam tradisi keluarga petani urban yang sederhana. Ia adalah seorang pertama dalam keluarganya yang bekerja sebagai ilmuwan secara serius. Pada tahun 1966 Baudrilland menyelesaikan tesis sosiologisnya di Universitas Nanterre di bawah bimbingan Henry Lefebvre, seorang anti-strukturali perancis kondang saat itu. Setahun setelah lulus , ia kemudian masuk universitas Nanterre, untuk mengajar di sana. Setelah setahun mengajar, selanjutnya baudrilland bergabung dengan Roland Barthes mengajar di Ecole Des Hautes Etudes.
Menurut Baudrilland, perkembangan kapitalisme lanjut semenjak tahun 1920-an menunjukkan perubahan dramatis karakter produksi dan konsumsi dalam masyarakat consumer. Dalam era ini, segala upaya pada penciptaan dan peningkatan kapasitas konsumsi melalui permassalan produk, differensiasi produk dan manajemen pemasaran. Dalam masyarakat konsumer , objek-objek konsumsi yang berupa komoditi tidak lagi sekedar memiliki manfaat (nilai guna ) dan harga (nilai tukar)seperti dijelaskan Marx. Namun lebih dari itu ia kini menjadi symbol gaya hidup, prestise, kemewahan, dan status social pemiliknya.
Dunia  simulacra, yang menjadi wacana dominan keasadaran masyarakat barat dewasa ini, papar baudrilland, sebenarnya telah ada semenjak era renaisans. Realitas simulacra memiliki tiga tingkatan periode historis, yaitu, Orde Pertama, berlangsung semenjak era Renaisans- Feodal Hingga permulaan Revolusi industry. Dalam orde ini realitas dunia dipahami berdasarkan prinsip hokum alam, dengan cirri ketertiban, keselarasan, hierarki alamiah serta bersifat tresenden. Alam menjadi pendukung utama sekaligus determinan kebudayaan. Simulacra Orde Kedua, berlangsung bersamaan dengan semakin gemuruhnya era industrialisasi yang merupakan konsekuensi logis Revolusi Industri.revolusi industri disatu sisi telah memberikan sumbangan besar bagi perkembangan kebudayaan. Namun di sisi lain revolusi industry juga menimbulkan akses-akses negative kebudayaan. Logika produksi yang menjadi prinsip simulacra  orde kedua. orde ketiga, lahir sebagai konsekuensi logis perkembangan ilmu dan teknologi informasi, komunikasi global, media massa, konsumerisme, dan kapitalisme pada era pasca perang dunia II.
Sementara melalui karyanya the ectasy of communication(1987) Baudrilland menyatakan bahwa dengan transparasi makna dan informasi, masyarakat barat dewasa ini telah melampaui ambang batas menuju keadaan permanent ectasy, ektasi social(massa) ektasi tubuh (kegemukan) ektasi seks (kecabulan) ektasi kekerasan (terror) dan ektasi informasi (simulasi).


  • Fredrich Jameson : Kapitalisme lanjut dan Postmodernisme

Fredich jameson adalah pemikir social Marxian berkebangsaan America serikat yang lahir di Cleveland, Ohio, America Serikat. Setelah lulus dari Haverlord collage pada tahun 1954, ia pergi ke Eropa  dan belajar di aix-provence, Munich serta berlin dimana ia mempelajari perkembangan terbaru dalam kajian filsafat, terutama strukturalisme. Ia kembali ke America serikat untuk menyelesaikan studinya doctoral di Yale University selama tahun 1960 hingga 1965.
Pergeseran minat jameson menuju paham marxisme juga didorong oleh hubungan politik pribadinya yang semakin meningkat dengan tokoh-tokoh gerakan kiri baru. Dalam banyak hal , jameson bersama dengan pemikir kritik kebudayaan Marxian lainnya yaitu Terry eagleton, berusaha menjelaskan peran penting pandangan Marxian terhadap trend filsafat dan sastra kontemporer. Setelah pindah ke University of California, san diego pada tahun 1967, Jameson menerbitkan buku berjudul Marxism and Form Twentieth- century Dialectical Theories of literature (1971) dan The Prison-House Of Language: A Critical Account Of structuralism And Russian Formalism (1972).
Karya penting fredich Jameson Mengenai pedidikan postmodernisme adalah bukunya yang berjudul Postmodernisme or the Cultural Logic Of the late Capitalism. Dalam buku ini jameson menyatakan bahwa kapitalisme saat ini telah menjadi cara pandang dominan masyarakat kontemporer dewasa ini. Dengan buku ini jameson bermaksud mengkritik postmodernisme dan menolak  pendapat sebagian besar pemikir postmodernisme, terutama Jean francois Lyotard dan jean Baudrilland.
Dalam bukunya yang menjadi klasik tersebut, jameson juga memberikan ciri- ciri masyarakat yang cenderung negative sebagai berikut; 
1) postmodernisme di tandai oleh kedangkalan dan kekurangan kedalaman 
2) Postmodernisme di tandai oleh kepura-puraan atau kelesuan emosi 
3) Postmodernisme di tandi oleh hilangya makna sejarah 
4) terdapat sejenis teknologi baru seperti televise dan computer yang melekat amat erat dengan masyarakat postmodern.
 Diantara pemikir-pemikir postmodern yang lain, Fredich Jameson adalah salah satu pemikir yang secara terbuka bersikap negative dan mengkritik pandangan teoritis pemikiran social postmodern yang berkembang di awal abad ke-20 M

dikutip dari buku Teori sosial Postmodernisme , George ritzer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar