Book Review
Pengarang : Daniel L. Pals
Judul : Seven Theories of
Religion.
Oleh : Puji Hastomo
(300711044)
Ketiga teori yang akan dibahas disini merupakan teori
yang menganggap agama sebagai sistem kepercayaan yang keliru dan tidak patut
dipertahankan.
1. Animisme dan
Magis (E.G. Tylor & J.G. Frazer)
Tylor & Frazer menganggap agama sebagai bentuk
kepercayaan yang keliru dan kedudukannya telah digantikan oleh ilmu pengetahuan
sebagai dasar pemahaman fenomena.
Menurut Tylor, esensi dari agama adalah roh (anima),
yaitu kepercayaan terhadap sesuatu yang hidup dan punya kekuatan yang ada di
balik segala sesuatu. Hal ini bermula pada para filosof-filosof liar (sebutan
Tylor untuk dukun-dukun pada masa lampau dan pemikir-pemikir pada masa lampau)
menginterpretasi mimpi dan kematian sebagai sesuatu yang diwarnai oleh roh yang
memiliki kepribadian dan terpisah dari tubuh. Mereka kemudian melakukan analogi
dan ekstensi bahwa roh dapat mengendalikan banyak hal diluar manusia, seperti
alam. Lalu, muncullah pertanyaan. Tidakkah sebenarnya ada roh-roh yang
mengendalikan elemen tertentu? Lalu muncullah dewa-dewi yang punya tugas-tugas
tertentu. Lalu muncullah juga malaikat dan setan. Kekusaan tertinggi muncul
oleh Zeus, Odin, Amon-Ra, Amaterasu, dan Allah, Tuhan Bapa, dan Jehovah.
Jiwa bersifat lebih kekal daripada tubuh. Hal ini
menunjukkan mengapa pada kepercayaan agama tertentu ada yang disebut
reinkarnasi dan agama lainnya menekankan pada hari pembalasan. Namun,
peneliti-peneliti modern telah membuktikan bahwa anima atau roh tidaklah ada
dalam semua elemen-elemen alam. Jika yang menjadi pondasi dasar pemikiran
munculnya agama adalah kekuatan roh, maka sejak awal sudah terjadi kekeliruan
besar. Pemahaman manusia yang terbatas pada masa lampau telah menyebabkan
pemikiran mengenai agama muncul. Sebuah kesalahan yang tidak bisa diubah akibat
belum majunya pemikiran pada masa lampau.
Sementara itu, Frazer lebih menekankan pada relasi
agama dengan magis. Agama muncul terlebih dahulu diawali oleh kepercayaan
sistem magis. Sejak dahulu, manusia memahami bahwa alam memiliki sifat-sifatnya
yang representatif dengan sifat-sifat yang dimiliki manusia. Itulah sebabnya
kenapa kita bisa merepresentasikan laut sebagai elemen yang tenang sekaligus
penuh amarah, hutan yang misterius dan menyimpan banyak rahasia, petir yang
dapat menghukum, kesuburan tanaman sebagai lambang reproduksi, dan masih banyak
lagi.
Dari sini, manusia mengasumsikan bahwa mereka dapat
melakukan imitasi dan diasumsikan pula bahwa ada keterikatan antara imitasi
yang dilakukan manusia dengan fenomena alam. Dari sinilah magis bermula.
Manusia merasa dengan imitasi yang mereka lakukan, mereka dapat melakukan
kontak dengan alam sehingga mengubah alam bagi manusia bukanlah suatu hal yang
mustahil. Dengan magis, mereka merapal mantera-mantera dan melakukan
penumbalan-penumbalan demi satu hal, yakni mengubah alam. Menurut mereka, jika
magis dilakukan dengan tepat, maka akan benar dapat mengubah alam. Tarian
hujan, misalnya, jika dilakukan dengan tepat maka akan benar-benar mendatangkan
hujan.
Namun, seiring waktu, manusia merasa bahwa mereka
tidak mampu mengontrol alam. Yang dapat mereka lakukan adalah memohon pada
roh-roh totem atau dewa-dewi agar mendatangkan kebaikan pada manusia, dan
memohon agar totem dan dewa tidak murka pada manusia. Mereka hanya bisa berdoa.
Lalu, disanalah peran Tuhan yang dapat mendatangkan kebaikan pada manusia yang
mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya lalu memberikan hukuman dan
murka pada manusia yang melakukan sebaliknya.
Kritik teori mereka adalah masalah pengambilan data
yang tidak memperhitungkan konteks tempat dan waktu sehingga diragukan apakah
memang bisa dilakukan perbandingan lintas budaya seperti yang mereka lakukan.
2. Kepribadian dan
Agama (Sigmund Freud)
“Tuhan ada, manusia tidak dewasa.” (Sigmund Freud, The
Future of Illusion)
Freud, bapak psikoanalisis dan orang pertama yang
secara teoretis melakukan revelasi terhadap alam bawah sadar manusia merupakan
teoretikus kepribadian yang sangat kontroversial. Topik-topik seks dan agresi
menjadi bahasan utama dalam psikoanalisis.
Freud dalam bukunya yaitu Totem & Taboo menganggap
bahwa asal-muasal agama dapat ditelusuri dengan menelusuri dinamika kepribadian
psikoanalisis. Agama ada meskipun orang-orang tetap melakukan dosa dan agama
tetap ada meskipun manusia merasa bahwa klaim-klaimnya banyak yang bersifat
irasional. Dalam teori kepribadian Freud, hal-hal yang bersifat irasional
ditekan dalam bawah sadar dan akan dorongan itu akan muncul dikemudian hari.
Dengan kata lain, agama memberikan peraturan-peraturan, namun secara irasional
manusia tetap saja melakukan pelanggaran-pelanggaran itu, namun pada akhirnya
ditekan karena kecemasan. Seperti dijelaskan olehnya, kecemasan apapun yang
ditekan akan akan menetap di bawah sadar dan akan muncul di kemudian hari meski
tidak diketahui kapan.
Pada masa lampau, jauh sebelum agama terbentuk,
manusia membunuh ayah mereka dan menguasai ibu mereka. Namun, hal itu telah
memunculkan kecemasan pada diri mereka. Lalu mereka menekan perasan itu. Rasa
bersalah yang ditekan pada masa lampau atas pembunuhan terhadap ayah dan
pemerkosaan terhadap ibu itu pada akhirnya membuat anak menyembah sang ayah,
dan diberlakukan tabu bahwa sang ibu tidak boleh disetubuhi oleh anak. Anak
harus mencari pasangan dari tempat lain selain keluarga. Namun, pada dasarnya,
meskipun mereka membenci sang ayah dan tabu untuk menyetubuhi ibu, tetap saja
konflik oedipal akan terus terjadi sehingga kebencian dan keinginan itu
tidaklah sempurna hilang meskipun sudah berusaha disembah dan dijadikan tabu.
Pada akhirnya, manusia akan terus melakukan pelanggaran-pelanggaran itu. Hal
ini secara langsung merupakan proses bagaimana agama berkembang. Ayah yang
disembah pada awalnya sebagai totem dikembangkan menjadi Tuhan Bapa dan
Tuhan-Tuhan maskulin lainnya. Toh manusia tetap saja melanggar apa yang
diperintahkan.
Dalam bukunya yang berjudul The Future of Illusion,
Freud melakukan pendekatan yang berbeda dari Totem & Taboo. Dalam buku ini,
agama dianggap sebagai sebuah ilusi. Agama memberikan dogma bahwa Tuhan akan
melindungi manusia dari marabahaya dan ancaman-ancaman jahat. Manusia terpukau
oleh ilusi ini sehingga mereka merasa bahwa Tuhan melindungi mereka. Hal ini
menyebabkan mereka tidak pernah dewasa. Mengapa? Bagi Freud, hal tersebut sama
dengan sosok ayah yang memberikan perlindungan pada anak. Ia melindungi anak
dari bahaya-bahaya luar. Namun, seiring waktu ia semakin besar, figur ayah
semakin hilang dan puncaknya ada di kematian ayah dan kedewasaan anak.Anak,
yang ingin ada figur ayah yang tetap melindunginya, memunculkan ilusi bahwa
Tuhan adalah sosok yang melindungi dari bahaya.
3. Agama Sebagai
Bentuk Alienasi (Karl Marx)
Hegel akan menjawab ide, sementara Marx akan menjawab
materi. Marx telah menemukan fakta bahwa manusia tidak mencari agama sejak ia
lahir. Manusia mencari makanan, minuman, dan pakaian jauh sebelum ia mencari
agama.
Dunia kapitalisme kita diliputi ketidaksetaraan antar
kelas. Tuan tanah dan para budak, pengusaha dan ribuan buruh, bangsawan dan
pelayan-pelayannya, raja yang agung dan rakyatnya yang hina, dan masih banyak
lagi contohnya. Bagi Marx, pelan tapi pasti akan timbul revolusi besar dan
perang yang dimulai oleh kelas pekerja dan buruh untuk menggulingkan kekuasaan
tuan tanah. Hal ini perlu terjadi agar manusia dapat kembali pada sistem
masyarakat mereka yang ideal pada zaman lampau. Semua hal adalah milik
masyarakat, tidak ada yang namanya milik pribadi. Dengan ini, manusia menjadi
setara. Tidak perlu lagi ada yang namanya tuan tanah yang menguasai tanah dan kemewahan
sementara budak-budak berjejal-jejalan di kampung-kampung kumuh dan bekerja
sekaligus membayar pajak bagi tuan tanah.
Pada perjalanannya, dalam dunia yang kapitalistik itu,
muncullah berbagai sistem-sistem yang mendukungnya. Hukum ditegakkan untuk mendukung
kepemilikan pribadi yang menjadi esensi dasar kapitalisme. Begitu pula dengan
sistem-sistem lainnya seperti ilmu pengetahuan yang cenderung mengutamakan hak
individu peneliti, seni dengan karakteristik yang sama, sampai pada sistem
lainnya, yang salah satunya adalah agama. Semua sistem-sistem ini tak ubahnya
merupakan sistem-sistem yang membuat manusia teralienasi dari apa yang
seharusnya mereka capai, apa yang seharusnya mereka perbuat. Bagaimana agama
sampai membuat manusia teralienasi?
Agama bagi Marx tak ubahnya merupakan candu yang
disebabkan sistem kapitalisme dan hal ini paling banyak mempengaruhi kaum buruh
dan pekerja. Bukan Tuhan yang menciptakan agama, tapi manusia yang menciptakan
agama itu sendiri sebagai akibat dari kekalahan mereka atas kelas yang lebih
tinggi. Benar. Pada kenyataannya, klaim-klaim agama sangatlah tergantung dengan
kondisi ekonomi manusia. Tidak pernah klaim-klaim agama terlepas dari itu.
Sebagai contoh, klaim-klaim semacam ini:
Tenanglah wahai hambaku, penderitaan kalian akan
digantikan dengan kekekalan di Surga.
Janganlah iri hati, bekerja keraslah, dan Tuhan akan
membalasmu kelak.
Harta tidaklah penting bagimu, karena harta yang akan
membutakanmu.
Jangan kuatir, sebab orang yang menindasmu akan
dimasukkan ke dalam api neraka.
Bagi Marx, semua doktrin-doktrin semacam diatas
hanyalah candu yang membuat kaum pekerja kehilangan niat mereka untuk melawan
kaum tuan tanah. Mereka terbawa oleh ilusi bahwa mereka akan hidup bahagia di
kemudian hari dengan pertolongan Tuhan, oleh karenanya saat itu juga mereka
tidak boleh iri hati dan mengeluh atas kondisi mereka saat itu. Padahal, agar
mereka tidak lagi teralienasi, mereka sepatutnya tidak menciptakan ilusi
semacam itu. Seharusnya, mereka menentang kaum tuan tanah agar terjadi
kesetaraan sosial kelak. Oleh karenanya, agam menjadi aktor penghambat manusia
dalam mencapai esensi mereka sebenarnya.
Marx sendiri sebenarnya tidak pernah secara
terang-terangan memusuhi agama. Baginya, agama hanyalah merupakan suatu
superstruktur yang muncul dikarenakan sistem kapitalisme. Oleh karenanya, yang
patut dihancurkan bukanlah agama, tetapi kapitalisme yang menjadi akar dari
munculnya superstruktur-superstruktur. Adapun kritik terhadap Marx adalah
pemikirannya yang luar biasa itu telah terbukti mengalami berbagai kegagalan
dari segi teknis. Kesetaraan sosial tidak terjadi karena pada masa transisi
menuju kesetaraan sosial, diktator-diktator menguasai negara juga dengan
mengutamakan kepentingan pribadi. Selain itu, sulit untuk memikirkan agama sebagai
akibat dari sistem ekonomi. Kenapa bukan sistem ekonomi yang menjadi akibat
dari agama tersebut.
Sakral dan Profan
Yang disebut dikotomi Sakral dan Profan, Durkheim
menyebutkan bahwa the Sacred merupakan pengalaman kemasyarakatan yang menjadi
lambang kebersatuan transenden yang dimanifestasikan dalam simbol-simbol
masyarakat, sementara the Profane merupakan pengalaman individual yang dianggap
lebih rendah dari pengalaman sakral.
Meskipun keduanya sama-sama membahas dikotomi Sakral
dan Profan dalam agama, pendekatan yang dilakukan keduanya terhadap dikotomi
itu cukup berbeda.
1. Emile Durkheim: Masyarakat yang Sakral
Bagi Durkheim, adalah sia-sia mencoba memahami
individu hanya dengan memahami insting biologis, psikologi individu atau
kepentingan pribadi. Untuk memahami agama, berpaling dari studi mengenai individu,
dan menyatakan bahwa ide tentang masyarakat adalah roh agama.
Freud menggunakan dimensi dorongan bawah sadar
kepribadian dan aspek dorongan biologis dalam menjelaskan perilaku manusia, sedangkan
Durkheim menggunakan dimensi interaksi sosial dan kemasyarakatan. Baginya,
individu tidak akan pernah bisa lepas dari masyarakat. Sejak lahir, telah
melakukan kontak dengan masyarakat, yaitu orangtua dan pengasuhnya. Dapat
dipastikan bahwa seorang individu tidak akan pernah bisa bertahan tanpa adanya
masyarakat. Bahkan, tanpa masyarakat, maka tidak ada satu hal pun yang akan
muncul dalam kehidupan manusia.
Durkheim menyatakan bahwa dasar dari kepercayaan
terhadap agama bukanlah terletak pada kepercayaan terhadap hal-hal yang
supernatural seperti Tuhan, karena pada banyak agama tidak ditemukan
kepercayaan terhadap Tuhan. Ini berarti, asumsi Tylor & Frazer yang
menyatakan pemahaman akan fenomena alam yang didasari oleh kekuatan
supernatural adalah hakikat dari agama tidaklah tepat. Dasar dari agama
bukanlah kepercayaan terhadap kekuatan supernatural (pembedaan atas apa yang
natural dan supernatural), melainkan konsep The Sacred (Yang Sakral). Pada
masyarakat beragama, terdapat dua konsep yang terpisah, yaitu Yang Sakral dan
Yang Profan.
Yang sakral adalah sesuatu yang tinggi, agung,
berkuasa, dihormati, dalam kondisi profan ia tidak tersentuh dan terjamah.
Sementara,
Yang profan adalah kehidupan sehari-hari yang
bersifat biasa saja.
Yang sakral berada dalam masyarakat, sementara yang
profan ada dalam konteks individu. Untuk menjelaskan konsep-konsep ini,
Durkheim meneliti mengenai masyarakat dengan agama totemisme; agama yang
dianggap sebagai agama paling tua yang pernah ada dalam sejarah manusia.
Untuk membuktikan asal-usul agama, Durkheim
berpendapat bahwa tidak tepat mengatakan bahwa konsep agama adalah kekuatan
personal yang disebut Tuhan, melainkan sebuah konsep yang tidak personal
(impersonal), yang dihormati dan dipuja sekaligus mengatur masyarakat, tetapi
tidak memiliki sosok. Melalui agama totemisme yang saat ini masih bertahan di
daerah Australia, Durkheim mampu menjelaskan apa fungsi agama.
Pada agama totemisme, simbol-simbol hewan dan tumbuhan
dipuja sebagai sesuatu yang dihormati. Simbol hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan
tertentu merupakan lambang dari klan-klan tertentu pada suku-suku. Hewan-hewan
dan tubuhan-tumbuhan itu suci dan tidak boleh dbunuh, tidak boleh dilukai
atau bahkan didekati kecuali dalam perayaan-perayaan tertentu. Kesucian totem
adalah mutlak dalam masyarakat itu. Kesuciannya dapat dirasakan oleh tiap-tiap
individu, terutama dalam perayaan dan ritual-ritual keagamaan. Pada
ritual-ritual dan perayaan-perayaan itu, totem-totem menyusup dan mengatur
kesadaran diri manusia. Saat pemujaan berlangsung dimana tarian-tarian,
lagu-lagu, mantera-mantera dan perasaan tenteram dan tenang merasuk ke dalam
tiap individu, maka detik itu juga individu kehilangan pribadinya dan masuk ke
dalam kerumunan massa Yang Sakral. Sebuah perasaan melayang-layang yang tidak
biasa, yang tidak bisa diungkapkan, tetapi nyata dan bersifat transendental.
Implikasi dari keyakinan terhadap totem itu
selanjutnya mampu menjelaskan bagaimana masyarakat membangun sistem-sistem
kepercayaan tertentu melalui metode asosiasi hubungan-hubungan antar konsep
yang berpusat pada Yang Sakral. Termasuk didalamnya adalah sistem kepercayaan
terhadap roh atau jiwa (yang menjadi dasar dari banyak agama). Roh yang ada
dalam diri seseorang merupakan representasi ketergantungan mereka terhadap
masyarakat. Roh bertugas untuk memberitahukan kepada individu untuk mematuhi
kewajiban-kewajiban moral terhadap masyarakat. Roh yang menjadi representasi
masyarakat dalam diri individu merupakan Yang Sakral sementara badan yang
bertugas memenuhi kebutuhan individu saja adalah Yang Profan. Selanjutnya
hubungan asosiatif dikembangkan lebih lanjut mengenai konsep roh yang bersifat
abadi. Dari sinilah penyembahan terhadap Dewa-Dewi dan Tuhan berasal. Roh-roh
yang mampu mengatur alam pada akhirnya dituntut oleh masyarakat sebagai
representasi kepribadian tertentu, yang superior, yang disebut Dewa dan Tuhan.
Kepercayaan terhadap totem-totem yang pada akhirnya
menjadi Dewa dan Tuhan itu bukanlah hal yang paling penting dalam agama menurut
Durkheim. Yang paling penting, adalah perasaan Sakral yang dihasilkan dari
ritual-ritual keagamaan. Pemujaan-pemujaan yang ada dalam ritual-ritual atau
perayaan-perayaan dalam setiap agama bertujuan bukan untuk totem atau Dewa,
melainkan untuk mejaga individu-individu agar tidak melupakan arti penting klan
dan memberikan perasan bahwa Yang Sakral adalah sesuatu yang berbeda dan
memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada Yang Profan.
Dari sini, terjawab sudah arti penting ritual-ritual
keagamaan dari agama-agama yang pada saat ini masih ada. Mereka dapat
memberikan arti penting suatu masyarakat dalam diri kita sekaligus memberikan
kepada kita perasaan yang transenden, yang tidak terjamah, yang tidak tercapai
dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat individual. Ini juga menjelaskan
mengapa pemuka-pemuka agama dan kalangan-kalangan beragama yang taat sangatlah
dijunjung tinggi oleh masyarakat. Karena mereka sudah mengorbankan diri mereka
untuk kepentingan masyarakat. Ia menjadi contoh bagi masyarakat untuk
meninggalkan Yang Profan karena Yang Sakral berada di kepentingan masyarakat.
Ini juga menjelaskan mengapa masyarakat membenci pemuka-pemuka agama yang
nampaknya lebih mementingkan kebutuhan Profan dibandingkan Sakral.
Kritik terhadap Durkheim berasal dari kalangan antropolog
yang menyatakan bahwa interpretasi dan analisa bukti-bukti data yang
dikumpulkan olehnya dipenuhi oleh fakta-fakta yang tidak memuaskan. Selain itu,
dalam beberapa masyarakat yang ada diluar tinjauan Durkheim lebih mengkhususkan
pada natural dan supernatural, bukan sakral dan profan.
2. Mircea Eliade: Hakikat dari yang Sakral
Karena sifatnya yang fungsional dan dependen terhadap
psikologi, sosiologi, dan ekonomi, maka teori-teori agama yang dikemukakan
Freud, Durkheim, dan Marx akan menghasilkan kesimpulan yang bersifat
reduksionistik. Penjelasan menganai satu aspek saja tidak akan mampu memahami
agama secara keseluruhan. Untuk itu, Mircea Eliade melakukan analisis terhadap
agama diluar konteks fungsionalis yang menggunakan pendekatan ilmu tertentu.
Agama harus dianggap sebagai sebuah variabel yang independen, dimana
faktor-faktor lainnya menjadi bergantung pada agama dan bukan sebaliknya.
Dalam studinya mengenai agama, Eliade mengkhususkan
pada studi dengan masyarakat arkhais, yaitu masyarakat pra-sejarah dengan
peradaban paling kuno. Mereka berburu, bercocok tanam, dan melakukan
pekerjaan-pekerjaan alami lainnya. Dalam masyarakat ini, akan selalu ditemui
apa yang disebut sebagai pemisahan antara Yang Sakral dan Yang Profan.
Yang sakral adalah: Sesuatu yang supernatural, luar
biasa, amat penting, dan tidak mudah dilupakan. Sementara,
yang profan adalah: Sesuatu yang biasa, bersifat
keseharian, hal-hal yang dilakukan sehari-hari secara teratur dan acak, dan
sebenarnya tidak terlalu penting.
Yang sakral bersifat abadi, mengandung substansi, dan
nyata. Di dalam yang sakral mengandung kesempurnaan dan keteraturan, dimana di
dalamnya bersemayam roh, nenek moyang, tempat tinggal Dewa-Dewi dan Tuhan.
Sementara yang profan bersifat mudah hilang, terlupakan, dan tidak nyata. Di
dalamnya, manusia selalu berbuat salah, manusia selalu berubah, dan mengalami
kekacauan. Dari sini terlihat sebenarnya perbedaan konsep Yang Sakral antara
Durkheim dan Eliade. Sementara Durkheim selalu mengunakan pendekatan sosial
kemasyarakatan yang non-supernatural dalam menentukan apa yang sakral itu,
Eliade berpendapat sebaliknya. Baginya, kekuatan supernatural adalah inti dari
yang sakral itu. Dengan demikian, pemikiran Eliade ini bukanlah bersumber
sepenuhnya dari pemikiran Durkheim meski menggunakan istilah-istilah yang sama,
melainkan bersumber dari seorang teolog yang pernah menjadi pembimbingnya,
yaitu Rudolf Otto.
Otto mengartikan perjumpaan dengan yang sakral (The
Holy) sebagai mysterium (hal yang misterius). Baik itu mysterium fascinosum
(misterius yang mengagumkan) atau mysterium tremendum (misterius yang
menakutkan), keduanya merupakan perjumpaan dengan yang sakral. Perjumpaan yang
sakral ini memberikan perasaan yang nyata, agung, tinggi, dan menakjubkan.
Perasaan ini tidak sama dengan perasaan-perasaan lainnya yang bersifat duniawi.
Perasaan inilah yang menjadi titik kunci apa yang disebut dengan agama. Eliade
sepenuhnya sepakat dengan hal ini. Ia menyatakan bahwa perjumpaan dengan yang
sakral dapat dialami oleh semua orang. Perasaan ini begitu kuatnya sehingga
kekuatan dari yang sakral itu dianggap sebagai sebuah realitas, sesuatu yang
nyata. Kesakralan adalah keseluruhan realitas yang dahsyat dan abadi. Manusia
ingin berada dekat dengan kekuatan itu. Meskipun benar inilah apa yang dianggap
Tuhan oleh agama-agama seperti Yahudi, Nasrani, dan Islam, namun Eliade meminta
untuk tidak menginterpretasikan yang sakral sebagai Tuhan, karena konsepnya
mengenai yang sakral tidak hanya berpusat pada Tuhan. Segala konsep-konsep
yang berada dalam ruang lingkup perjumpaan dengan yang nir-duniawi dapat
dikatakan sebagai Yang Sakral, dan ini tidak berarti harus selalu dengan Tuhan
yang bersifat personal.
Dengan kepercayaan terhadap kekuatan yang agung dan
nir-duniawi yang nyata itu, adalah mudah menjelaskan bagaimana kepercayaan yang
begtu kuatnya pada akhirnya membentuk sistem-sistem tertentu. Manusia
menyerahkan hal-hal yang profan juga kepada yang sakral. Dongeng-dongeng dan
mitologi-mitologi mengenai masyarakat arkhais akan selalu mengandung konsep
penyerahan diri terhadap yang sakral. Yang sakral mampu mengatur segala aspek
kehidupan manusia. Tidak jarang kita dengar kisah-kisah mengenai doa-doa yang
perlu dipanjatkan sebelum memulai suatu pekerjaan, atau aturan-aturan yang
diberlakukan dalam membangun rumah, misalnya. Semuanya tidak terlepas dari yang
sakral. Setiap konsep yang sakral memiliki titik pusatnya yang nyata. Dalam hal
ini, merupakan pusat dunia. Dalam Islam dikenal Ka’bah yang agung, yang menjadi
pusat ibadah dari semua umat muslim, sementara dalam agama Kristen dikenal
tangga Yakub, seorang penginjil yang melihat tangga menuju surga tepat
dihadapannya, lalu ia mebentuk batu yang menyerupai tangga itu. Dalam agama
kuno seperti kepercayaan bangsa Norse, terdapat pohon Yggdrasil yang disebut
sebagai pohon kehidupan. Begitu pula dalam kepercayaan-kepercayaan lainnya
sehingga pusat dunia (axis mundi) ini merupakan sesuatu yang universal dan ada
di setiap agama, yang memiliki fungsi sebagai lambang penciptaan dunia. Hal ini
jugalah yang dilakukan oleh simbol-simbol lainnya yang diciptakan manusia.
Simbol-simbol itu ada karena pemaknaan tertentu mengenai yang sakral.
Seluruh pemikiran masyarakat arkhais mengenai yang
sakral adalah dorongan akan satu hal: yaitu dorongan untuk melepaskan diri dari
sejarah dan ingin kembali pada waktu ketika seisi dunia diciptakan. Keinginan
ini oleh Eliade dinamakan dengan nostalgia surga firdaus. Jauh di lubuk hati
masyarakat arkhais, mereka ingin meninggalkan pekerjaan-pekerjaan mereka dan
segala sesuatu yang sifatnya profan. Yang profan ini merupakan sejarah mereka,
sejarah hidup dan nenek moyang mereka diluar penciptaan bumi dan seisinya.
Mereka ingin kembali ke Surga. Dengan demikian, kehidupan itu sama sekali tidak
ada artinya bagi mereka. Mereka ingin meraih kekekalan, keindahan,
kesempurnaan, dan sejarah hanya membawa mereka pada yang sulit, yang tidak
sempurna, dan yang pahit. Dengan kata lain, kehidupan sebenarnya tidak akan
bisa dicapai melalui sejarah.
Berbeda dengan masyarakat arkhais, filsuf-filsuf modern
dn masyarakat ilmiah berkeinginan sebaliknya. Dengan perkembangan dan kemajuan
pemikiran yang ada, mereka merasa bahwa sejarah tidak perlu dihapuskan. Manusia
tidak perlu kembali pada yang sakral karena yang sakral itu sebenarnya tidak
ada. Kita saat ini sudah bisa hidup tanpa adanya yang sakral.
Eliade berpihak pada agama, bukan pada filsuf modern.
Banyak kritik-kritik terhadap Eliade ditujukan kepada
perbandingan-perbandingan antar agama yang dilakukan tidaklah cukup global.
Kritik pedas juga mengatakan bahwa teori ini memiliki bias-nya sendiri karena
Eliade dianggap berpihak pada agamanya sendiri, yaitu Katolik Roma.