Selasa, 02 September 2014

Seven Theories of Religion



Book Review
Pengarang      : Daniel L. Pals
Judul              : Seven Theories of Religion.
Oleh                : Puji Hastomo (300711044)
Ketiga teori yang akan dibahas disini merupakan teori yang menganggap agama sebagai sistem kepercayaan yang keliru dan tidak patut dipertahankan.
1.      Animisme dan Magis (E.G. Tylor & J.G. Frazer)
Tylor & Frazer menganggap agama sebagai bentuk kepercayaan yang keliru dan kedudukannya telah digantikan oleh ilmu pengetahuan sebagai dasar pemahaman fenomena.
Menurut Tylor, esensi dari agama adalah roh (anima), yaitu kepercayaan terhadap sesuatu yang hidup dan punya kekuatan yang ada di balik segala sesuatu. Hal ini bermula pada para filosof-filosof liar (sebutan Tylor untuk dukun-dukun pada masa lampau dan pemikir-pemikir pada masa lampau) menginterpretasi mimpi dan kematian sebagai sesuatu yang diwarnai oleh roh yang memiliki kepribadian dan terpisah dari tubuh. Mereka kemudian melakukan analogi dan ekstensi bahwa roh dapat mengendalikan banyak hal diluar manusia, seperti alam. Lalu, muncullah pertanyaan. Tidakkah sebenarnya ada roh-roh yang mengendalikan elemen tertentu? Lalu muncullah dewa-dewi yang punya tugas-tugas tertentu. Lalu muncullah juga malaikat dan setan. Kekusaan tertinggi muncul oleh Zeus, Odin, Amon-Ra, Amaterasu, dan Allah, Tuhan Bapa, dan Jehovah.
Jiwa bersifat lebih kekal daripada tubuh. Hal ini menunjukkan mengapa pada kepercayaan agama tertentu ada yang disebut reinkarnasi dan agama lainnya menekankan pada hari pembalasan. Namun, peneliti-peneliti modern telah membuktikan bahwa anima atau roh tidaklah ada dalam semua elemen-elemen alam. Jika yang menjadi pondasi dasar pemikiran munculnya agama adalah kekuatan roh, maka sejak awal sudah terjadi kekeliruan besar. Pemahaman manusia yang terbatas pada masa lampau telah menyebabkan pemikiran mengenai agama muncul. Sebuah kesalahan yang tidak bisa diubah akibat belum majunya pemikiran pada masa lampau.
Sementara itu, Frazer lebih menekankan pada relasi agama dengan magis. Agama muncul terlebih dahulu diawali oleh kepercayaan sistem magis. Sejak dahulu, manusia memahami bahwa alam memiliki sifat-sifatnya yang representatif dengan sifat-sifat yang dimiliki manusia. Itulah sebabnya kenapa kita bisa merepresentasikan laut sebagai elemen yang tenang sekaligus penuh amarah, hutan yang misterius dan menyimpan banyak rahasia, petir yang dapat menghukum, kesuburan tanaman sebagai lambang reproduksi, dan masih banyak lagi.
Dari sini, manusia mengasumsikan bahwa mereka dapat melakukan imitasi dan diasumsikan pula bahwa ada keterikatan antara imitasi yang dilakukan manusia dengan fenomena alam. Dari sinilah magis bermula. Manusia merasa dengan imitasi yang mereka lakukan, mereka dapat melakukan kontak dengan alam sehingga mengubah alam bagi manusia bukanlah suatu hal yang mustahil. Dengan magis, mereka merapal mantera-mantera dan melakukan penumbalan-penumbalan demi satu hal, yakni mengubah alam. Menurut mereka, jika magis dilakukan dengan tepat, maka akan benar dapat mengubah alam. Tarian hujan, misalnya, jika dilakukan dengan tepat maka akan benar-benar mendatangkan hujan.
Namun, seiring waktu, manusia merasa bahwa mereka tidak mampu mengontrol alam. Yang dapat mereka lakukan adalah memohon pada roh-roh totem atau dewa-dewi agar mendatangkan kebaikan pada manusia, dan memohon agar totem dan dewa tidak murka pada manusia. Mereka hanya bisa berdoa. Lalu, disanalah peran Tuhan yang dapat mendatangkan kebaikan pada manusia yang mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya lalu memberikan hukuman dan murka pada manusia yang melakukan sebaliknya.
Kritik teori mereka adalah masalah pengambilan data yang tidak memperhitungkan konteks tempat dan waktu sehingga diragukan apakah memang bisa dilakukan perbandingan lintas budaya seperti yang mereka lakukan.










2.      Kepribadian dan Agama (Sigmund Freud)
“Tuhan ada, manusia tidak dewasa.” (Sigmund Freud, The Future of Illusion)
Freud, bapak psikoanalisis dan orang pertama yang secara teoretis melakukan revelasi terhadap alam bawah sadar manusia merupakan teoretikus kepribadian yang sangat kontroversial. Topik-topik seks dan agresi menjadi bahasan utama dalam psikoanalisis.
Freud dalam bukunya yaitu Totem & Taboo menganggap bahwa asal-muasal agama dapat ditelusuri dengan menelusuri dinamika kepribadian psikoanalisis. Agama ada meskipun orang-orang tetap melakukan dosa dan agama tetap ada meskipun manusia merasa bahwa klaim-klaimnya banyak yang bersifat irasional. Dalam teori kepribadian Freud, hal-hal yang bersifat irasional ditekan dalam bawah sadar dan akan dorongan itu akan muncul dikemudian hari. Dengan kata lain, agama memberikan peraturan-peraturan, namun secara irasional manusia tetap saja melakukan pelanggaran-pelanggaran itu, namun pada akhirnya ditekan karena kecemasan. Seperti dijelaskan olehnya, kecemasan apapun yang ditekan akan akan menetap di bawah sadar dan akan muncul di kemudian hari meski tidak diketahui kapan.
Pada masa lampau, jauh sebelum agama terbentuk, manusia membunuh ayah mereka dan menguasai ibu mereka. Namun, hal itu telah memunculkan kecemasan pada diri mereka. Lalu mereka menekan perasan itu. Rasa bersalah yang ditekan pada masa lampau atas pembunuhan terhadap ayah dan pemerkosaan terhadap ibu itu pada akhirnya membuat anak menyembah sang ayah, dan diberlakukan tabu bahwa sang ibu tidak boleh disetubuhi oleh anak. Anak harus mencari pasangan dari tempat lain selain keluarga. Namun, pada dasarnya, meskipun mereka membenci sang ayah dan tabu untuk menyetubuhi ibu, tetap saja konflik oedipal akan terus terjadi sehingga kebencian dan keinginan itu tidaklah sempurna hilang meskipun sudah berusaha disembah dan dijadikan tabu. Pada akhirnya, manusia akan terus melakukan pelanggaran-pelanggaran itu. Hal ini secara langsung merupakan proses bagaimana agama berkembang. Ayah yang disembah pada awalnya sebagai totem dikembangkan menjadi Tuhan Bapa dan Tuhan-Tuhan maskulin lainnya. Toh manusia tetap saja melanggar apa yang diperintahkan.
Dalam bukunya yang berjudul The Future of Illusion, Freud melakukan pendekatan yang berbeda dari Totem & Taboo. Dalam buku ini, agama dianggap sebagai sebuah ilusi. Agama memberikan dogma bahwa Tuhan akan melindungi manusia dari marabahaya dan ancaman-ancaman jahat. Manusia terpukau oleh ilusi ini sehingga mereka merasa bahwa Tuhan melindungi mereka. Hal ini menyebabkan mereka tidak pernah dewasa. Mengapa? Bagi Freud, hal tersebut sama dengan sosok ayah yang memberikan perlindungan pada anak. Ia melindungi anak dari bahaya-bahaya luar. Namun, seiring waktu ia semakin besar, figur ayah semakin hilang dan puncaknya ada di kematian ayah dan kedewasaan anak.Anak, yang ingin ada figur ayah yang tetap melindunginya, memunculkan ilusi bahwa Tuhan adalah sosok yang melindungi dari bahaya.




3.      Agama Sebagai Bentuk Alienasi (Karl Marx)
Hegel akan menjawab ide, sementara Marx akan menjawab materi. Marx telah menemukan fakta bahwa manusia tidak mencari agama sejak ia lahir. Manusia mencari makanan, minuman, dan pakaian jauh sebelum ia mencari agama.
Dunia kapitalisme kita diliputi ketidaksetaraan antar kelas. Tuan tanah dan para budak, pengusaha dan ribuan buruh, bangsawan dan pelayan-pelayannya, raja yang agung dan rakyatnya yang hina, dan masih banyak lagi contohnya. Bagi Marx, pelan tapi pasti akan timbul revolusi besar dan perang yang dimulai oleh kelas pekerja dan buruh untuk menggulingkan kekuasaan tuan tanah. Hal ini perlu terjadi agar manusia dapat kembali pada sistem masyarakat mereka yang ideal pada zaman lampau. Semua hal adalah milik masyarakat, tidak ada yang namanya milik pribadi. Dengan ini, manusia menjadi setara. Tidak perlu lagi ada yang namanya tuan tanah yang menguasai tanah dan kemewahan sementara budak-budak berjejal-jejalan di kampung-kampung kumuh dan bekerja sekaligus membayar pajak bagi tuan tanah.
Pada perjalanannya, dalam dunia yang kapitalistik itu, muncullah berbagai sistem-sistem yang mendukungnya. Hukum ditegakkan untuk mendukung kepemilikan pribadi yang menjadi esensi dasar kapitalisme. Begitu pula dengan sistem-sistem lainnya seperti ilmu pengetahuan yang cenderung mengutamakan hak individu peneliti, seni dengan karakteristik yang sama, sampai pada sistem lainnya, yang salah satunya adalah agama. Semua sistem-sistem ini tak ubahnya merupakan sistem-sistem yang membuat manusia teralienasi dari apa yang seharusnya mereka capai, apa yang seharusnya mereka perbuat. Bagaimana agama sampai membuat manusia teralienasi?
Agama bagi Marx tak ubahnya merupakan candu yang disebabkan sistem kapitalisme dan hal ini paling banyak mempengaruhi kaum buruh dan pekerja. Bukan Tuhan yang menciptakan agama, tapi manusia yang menciptakan agama itu sendiri sebagai akibat dari kekalahan mereka atas kelas yang lebih tinggi. Benar. Pada kenyataannya, klaim-klaim agama sangatlah tergantung dengan kondisi ekonomi manusia. Tidak pernah klaim-klaim agama terlepas dari itu. Sebagai contoh, klaim-klaim semacam ini:
Tenanglah wahai hambaku, penderitaan kalian akan digantikan dengan kekekalan di Surga.
Janganlah iri hati, bekerja keraslah, dan Tuhan akan membalasmu kelak.
Harta tidaklah penting bagimu, karena harta yang akan membutakanmu.
Jangan kuatir, sebab orang yang menindasmu akan dimasukkan ke dalam api neraka.
Bagi Marx, semua doktrin-doktrin semacam diatas hanyalah candu yang membuat kaum pekerja kehilangan niat mereka untuk melawan kaum tuan tanah. Mereka terbawa oleh ilusi bahwa mereka akan hidup bahagia di kemudian hari dengan pertolongan Tuhan, oleh karenanya saat itu juga mereka tidak boleh iri hati dan mengeluh atas kondisi mereka saat itu. Padahal, agar mereka tidak lagi teralienasi, mereka sepatutnya tidak menciptakan ilusi semacam itu. Seharusnya, mereka menentang kaum tuan tanah agar terjadi kesetaraan sosial kelak. Oleh karenanya, agam menjadi aktor penghambat manusia dalam mencapai esensi mereka sebenarnya.
Marx sendiri sebenarnya tidak pernah secara terang-terangan memusuhi agama. Baginya, agama hanyalah merupakan suatu superstruktur yang muncul dikarenakan sistem kapitalisme. Oleh karenanya, yang patut dihancurkan bukanlah agama, tetapi kapitalisme yang menjadi akar dari munculnya superstruktur-superstruktur. Adapun kritik terhadap Marx adalah pemikirannya yang luar biasa itu telah terbukti mengalami berbagai kegagalan dari segi teknis. Kesetaraan sosial tidak terjadi karena pada masa transisi menuju kesetaraan sosial, diktator-diktator menguasai negara juga dengan mengutamakan kepentingan pribadi. Selain itu, sulit untuk memikirkan agama sebagai akibat dari sistem ekonomi. Kenapa bukan sistem ekonomi yang menjadi akibat dari agama tersebut.











Sakral dan Profan
Yang disebut dikotomi Sakral dan Profan, Durkheim menyebutkan bahwa the Sacred merupakan pengalaman kemasyarakatan yang menjadi lambang kebersatuan transenden yang dimanifestasikan dalam simbol-simbol masyarakat, sementara the Profane merupakan pengalaman individual yang dianggap lebih rendah dari pengalaman sakral.
Meskipun keduanya sama-sama membahas dikotomi Sakral dan Profan dalam agama, pendekatan yang dilakukan keduanya terhadap dikotomi itu cukup berbeda.
1.      Emile Durkheim: Masyarakat yang Sakral
Bagi Durkheim, adalah sia-sia mencoba memahami individu hanya dengan memahami insting biologis, psikologi individu atau kepentingan pribadi. Untuk memahami agama, berpaling dari studi mengenai individu, dan menyatakan bahwa ide tentang masyarakat adalah roh agama.
Freud menggunakan dimensi dorongan bawah sadar kepribadian dan aspek dorongan biologis dalam menjelaskan perilaku manusia, sedangkan Durkheim menggunakan dimensi interaksi sosial dan kemasyarakatan. Baginya, individu tidak akan pernah bisa lepas dari masyarakat. Sejak lahir, telah melakukan kontak dengan masyarakat, yaitu orangtua dan pengasuhnya. Dapat dipastikan bahwa seorang individu tidak akan pernah bisa bertahan tanpa adanya masyarakat. Bahkan, tanpa masyarakat, maka tidak ada satu hal pun yang akan muncul dalam kehidupan manusia.
Durkheim menyatakan bahwa dasar dari kepercayaan terhadap agama bukanlah terletak pada kepercayaan terhadap hal-hal yang supernatural seperti Tuhan, karena pada banyak agama tidak ditemukan kepercayaan terhadap Tuhan. Ini berarti, asumsi Tylor & Frazer yang menyatakan pemahaman akan fenomena alam yang didasari oleh kekuatan supernatural adalah hakikat dari agama tidaklah tepat. Dasar dari agama bukanlah kepercayaan terhadap kekuatan supernatural (pembedaan atas apa yang natural dan supernatural), melainkan konsep The Sacred (Yang Sakral). Pada masyarakat beragama, terdapat dua konsep yang terpisah, yaitu Yang Sakral dan Yang Profan.
Yang sakral adalah sesuatu yang tinggi, agung, berkuasa, dihormati, dalam kondisi profan ia tidak tersentuh dan terjamah. Sementara,
Yang profan adalah kehidupan sehari-hari yang bersifat biasa saja.
Yang sakral berada dalam masyarakat, sementara yang profan ada dalam konteks individu. Untuk menjelaskan konsep-konsep ini, Durkheim meneliti mengenai masyarakat dengan agama totemisme; agama yang dianggap sebagai agama paling tua yang pernah ada dalam sejarah manusia.
Untuk membuktikan asal-usul agama, Durkheim berpendapat bahwa tidak tepat mengatakan bahwa konsep agama adalah kekuatan personal yang disebut Tuhan, melainkan sebuah konsep yang tidak personal (impersonal), yang dihormati dan dipuja sekaligus mengatur masyarakat, tetapi tidak memiliki sosok. Melalui agama totemisme yang saat ini masih bertahan di daerah Australia, Durkheim mampu menjelaskan apa fungsi agama.
Pada agama totemisme, simbol-simbol hewan dan tumbuhan dipuja sebagai sesuatu yang dihormati. Simbol hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan tertentu merupakan lambang dari klan-klan tertentu pada suku-suku. Hewan-hewan dan tubuhan-tumbuhan itu  suci dan tidak boleh dbunuh, tidak boleh dilukai atau bahkan didekati kecuali dalam perayaan-perayaan tertentu. Kesucian totem adalah mutlak dalam masyarakat itu. Kesuciannya dapat dirasakan oleh tiap-tiap individu, terutama dalam perayaan dan ritual-ritual keagamaan. Pada ritual-ritual dan perayaan-perayaan itu, totem-totem menyusup dan mengatur kesadaran diri manusia. Saat pemujaan berlangsung dimana tarian-tarian, lagu-lagu, mantera-mantera dan perasaan tenteram dan tenang merasuk ke dalam tiap individu, maka detik itu juga individu kehilangan pribadinya dan masuk ke dalam kerumunan massa Yang Sakral. Sebuah perasaan melayang-layang yang tidak biasa, yang tidak bisa diungkapkan, tetapi nyata dan bersifat transendental.
Implikasi dari keyakinan terhadap totem itu selanjutnya mampu menjelaskan bagaimana masyarakat membangun sistem-sistem kepercayaan tertentu melalui metode asosiasi hubungan-hubungan antar konsep yang berpusat pada Yang Sakral. Termasuk didalamnya adalah sistem kepercayaan terhadap roh atau jiwa (yang menjadi dasar dari banyak agama). Roh yang ada dalam diri seseorang merupakan representasi ketergantungan mereka terhadap masyarakat. Roh bertugas untuk memberitahukan kepada individu untuk mematuhi kewajiban-kewajiban moral terhadap masyarakat. Roh yang menjadi representasi masyarakat dalam diri individu merupakan Yang Sakral sementara badan yang bertugas memenuhi kebutuhan individu saja adalah Yang Profan. Selanjutnya hubungan asosiatif dikembangkan lebih lanjut mengenai konsep roh yang bersifat abadi. Dari sinilah penyembahan terhadap Dewa-Dewi dan Tuhan berasal. Roh-roh yang mampu mengatur alam pada akhirnya dituntut oleh masyarakat sebagai representasi kepribadian tertentu, yang superior, yang disebut Dewa dan Tuhan.
Kepercayaan terhadap totem-totem yang pada akhirnya menjadi Dewa dan Tuhan itu bukanlah hal yang paling penting dalam agama menurut Durkheim. Yang paling penting, adalah perasaan Sakral yang dihasilkan dari ritual-ritual keagamaan. Pemujaan-pemujaan yang ada dalam ritual-ritual atau perayaan-perayaan dalam setiap agama bertujuan bukan untuk totem atau Dewa, melainkan untuk mejaga individu-individu agar tidak melupakan arti penting klan dan memberikan perasan bahwa Yang Sakral adalah sesuatu yang berbeda dan memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada Yang Profan.
Dari sini, terjawab sudah arti penting ritual-ritual keagamaan dari agama-agama yang pada saat ini masih ada. Mereka dapat memberikan arti penting suatu masyarakat dalam diri kita sekaligus memberikan kepada kita perasaan yang transenden, yang tidak terjamah, yang tidak tercapai dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat individual. Ini juga menjelaskan mengapa pemuka-pemuka agama dan kalangan-kalangan beragama yang taat sangatlah dijunjung tinggi oleh masyarakat. Karena mereka sudah mengorbankan diri mereka untuk kepentingan masyarakat. Ia menjadi contoh bagi masyarakat untuk meninggalkan Yang Profan karena Yang Sakral berada di kepentingan masyarakat. Ini juga menjelaskan mengapa masyarakat membenci pemuka-pemuka agama yang nampaknya lebih mementingkan kebutuhan Profan dibandingkan Sakral.
Kritik terhadap Durkheim berasal dari kalangan antropolog yang menyatakan bahwa interpretasi dan analisa bukti-bukti data yang dikumpulkan olehnya dipenuhi oleh fakta-fakta yang tidak memuaskan. Selain itu, dalam beberapa masyarakat yang ada diluar tinjauan Durkheim lebih mengkhususkan pada natural dan supernatural, bukan sakral dan profan.
2.      Mircea Eliade: Hakikat dari yang Sakral
Karena sifatnya yang fungsional dan dependen terhadap psikologi, sosiologi, dan ekonomi, maka teori-teori agama yang dikemukakan Freud, Durkheim, dan Marx akan menghasilkan kesimpulan yang bersifat reduksionistik. Penjelasan menganai satu aspek saja tidak akan mampu memahami agama secara keseluruhan. Untuk itu, Mircea Eliade melakukan analisis terhadap agama diluar konteks fungsionalis yang menggunakan pendekatan ilmu tertentu. Agama harus dianggap sebagai sebuah variabel yang independen, dimana faktor-faktor lainnya menjadi bergantung pada agama dan bukan sebaliknya.
Dalam studinya mengenai agama, Eliade mengkhususkan pada studi dengan masyarakat arkhais, yaitu masyarakat pra-sejarah dengan peradaban paling kuno. Mereka berburu, bercocok tanam, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan alami lainnya. Dalam masyarakat ini, akan selalu ditemui apa yang disebut sebagai pemisahan antara Yang Sakral dan Yang Profan.
Yang sakral adalah: Sesuatu yang supernatural, luar biasa, amat penting, dan tidak mudah dilupakan. Sementara,
yang profan adalah: Sesuatu yang biasa, bersifat keseharian, hal-hal yang dilakukan sehari-hari secara teratur dan acak, dan sebenarnya tidak terlalu penting.
Yang sakral bersifat abadi, mengandung substansi, dan nyata. Di dalam yang sakral mengandung kesempurnaan dan keteraturan, dimana di dalamnya bersemayam roh, nenek moyang, tempat tinggal Dewa-Dewi dan Tuhan. Sementara yang profan bersifat mudah hilang, terlupakan, dan tidak nyata. Di dalamnya, manusia selalu berbuat salah, manusia selalu berubah, dan mengalami kekacauan. Dari sini terlihat sebenarnya perbedaan konsep Yang Sakral antara Durkheim dan Eliade. Sementara Durkheim selalu mengunakan pendekatan sosial kemasyarakatan yang non-supernatural dalam menentukan apa yang sakral itu, Eliade berpendapat sebaliknya. Baginya, kekuatan supernatural adalah inti dari yang sakral itu. Dengan demikian, pemikiran Eliade ini bukanlah bersumber sepenuhnya dari pemikiran Durkheim meski menggunakan istilah-istilah yang sama, melainkan bersumber dari seorang teolog yang pernah menjadi pembimbingnya, yaitu Rudolf Otto.
Otto mengartikan perjumpaan dengan yang sakral (The Holy) sebagai mysterium (hal yang misterius). Baik itu mysterium fascinosum (misterius yang mengagumkan) atau mysterium tremendum (misterius yang menakutkan), keduanya merupakan perjumpaan dengan yang sakral. Perjumpaan yang sakral ini memberikan perasaan yang nyata, agung, tinggi, dan menakjubkan. Perasaan ini tidak sama dengan perasaan-perasaan lainnya yang bersifat duniawi. Perasaan inilah yang menjadi titik kunci apa yang disebut dengan agama. Eliade sepenuhnya sepakat dengan hal ini. Ia menyatakan bahwa perjumpaan dengan yang sakral dapat dialami oleh semua orang. Perasaan ini begitu kuatnya sehingga kekuatan dari yang sakral itu dianggap sebagai sebuah realitas, sesuatu yang nyata. Kesakralan adalah keseluruhan realitas yang dahsyat dan abadi. Manusia ingin berada dekat dengan kekuatan itu. Meskipun benar inilah apa yang dianggap Tuhan oleh agama-agama seperti Yahudi, Nasrani, dan Islam, namun Eliade meminta untuk tidak menginterpretasikan yang sakral sebagai Tuhan, karena konsepnya mengenai yang sakral tidak hanya berpusat pada Tuhan. Segala konsep-konsep yang berada dalam ruang lingkup perjumpaan dengan yang nir-duniawi dapat dikatakan sebagai Yang Sakral, dan ini tidak berarti harus selalu dengan Tuhan yang bersifat personal.
Dengan kepercayaan terhadap kekuatan yang agung dan nir-duniawi yang nyata itu, adalah mudah menjelaskan bagaimana kepercayaan yang begtu kuatnya pada akhirnya membentuk sistem-sistem tertentu. Manusia menyerahkan hal-hal yang profan juga kepada yang sakral. Dongeng-dongeng dan mitologi-mitologi mengenai masyarakat arkhais akan selalu mengandung konsep penyerahan diri terhadap yang sakral. Yang sakral mampu mengatur segala aspek kehidupan manusia. Tidak jarang kita dengar kisah-kisah mengenai doa-doa yang perlu dipanjatkan sebelum memulai suatu pekerjaan, atau aturan-aturan yang diberlakukan dalam membangun rumah, misalnya. Semuanya tidak terlepas dari yang sakral. Setiap konsep yang sakral memiliki titik pusatnya yang nyata. Dalam hal ini, merupakan pusat dunia. Dalam Islam dikenal Ka’bah yang agung, yang menjadi pusat ibadah dari semua umat muslim, sementara dalam agama Kristen dikenal tangga Yakub, seorang penginjil yang melihat tangga menuju surga tepat dihadapannya, lalu ia mebentuk batu yang menyerupai tangga itu. Dalam agama kuno seperti kepercayaan bangsa Norse, terdapat pohon Yggdrasil yang disebut sebagai pohon kehidupan. Begitu pula dalam kepercayaan-kepercayaan lainnya sehingga pusat dunia (axis mundi) ini merupakan sesuatu yang universal dan ada di setiap agama, yang memiliki fungsi sebagai lambang penciptaan dunia. Hal ini jugalah yang dilakukan oleh simbol-simbol lainnya yang diciptakan manusia. Simbol-simbol itu ada karena pemaknaan tertentu mengenai yang sakral.
Seluruh pemikiran masyarakat arkhais mengenai yang sakral adalah dorongan akan satu hal: yaitu dorongan untuk melepaskan diri dari sejarah dan ingin kembali pada waktu ketika seisi dunia diciptakan. Keinginan ini oleh Eliade dinamakan dengan nostalgia surga firdaus. Jauh di lubuk hati masyarakat arkhais, mereka ingin meninggalkan pekerjaan-pekerjaan mereka dan segala sesuatu yang sifatnya profan. Yang profan ini merupakan sejarah mereka, sejarah hidup dan nenek moyang mereka diluar penciptaan bumi dan seisinya. Mereka ingin kembali ke Surga. Dengan demikian, kehidupan itu sama sekali tidak ada artinya bagi mereka. Mereka ingin meraih kekekalan, keindahan, kesempurnaan, dan sejarah hanya membawa mereka pada yang sulit, yang tidak sempurna, dan yang pahit. Dengan kata lain, kehidupan sebenarnya tidak akan bisa dicapai melalui sejarah.
Berbeda dengan masyarakat arkhais, filsuf-filsuf modern dn masyarakat ilmiah berkeinginan sebaliknya. Dengan perkembangan dan kemajuan pemikiran yang ada, mereka merasa bahwa sejarah tidak perlu dihapuskan. Manusia tidak perlu kembali pada yang sakral karena yang sakral itu sebenarnya tidak ada. Kita saat ini sudah bisa hidup tanpa adanya yang sakral.
Eliade berpihak pada agama, bukan pada filsuf modern.
Banyak kritik-kritik terhadap Eliade ditujukan kepada perbandingan-perbandingan antar agama yang dilakukan tidaklah cukup global. Kritik pedas juga mengatakan bahwa teori ini memiliki bias-nya sendiri karena Eliade dianggap berpihak pada agamanya sendiri, yaitu Katolik Roma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar